Bangun Poros Baru, Lima Sosok Ini Jadi Petarung Utama PSI Sulut 2029

Sulut, KOMENTAR –
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mulai membangun poros baru di tengah dominasi partai-partai mapan dan besar di Sulawesi Utara dengan merekrut sejumlah figur yang memiliki rekam jejak, jaringan politik dan basis elektoral di berbagai wilayah.
Tak heran, jika partai berlambang Gajah ini perlahan menjadi satu kekuatan baru yang dinilai berpotensi mengubah konstelasi politik di Bumi Nyiur Melambai ini.
Langkah ini dipandang sebagai strategi memperluas ceruk pemilih sekaligus menantang dominasi partai-partai besar.
Setidaknya ada lima nama yang digadang-gadang menjadi “petarung” utama PSI Sulut menuju 2029.
Di Minahasa Tenggara, mantan Bupati dua periode James Sumendap dinilai masih memiliki magnet politik yang kuat.
Basis loyalis yang telah terbentuk selama dua periode kepemimpinannya diperkirakan tetap menjadi modal penting dalam pertarungan politik mendatang.
Di Bolaang Mongondow Raya (BMR), Tatong Bara menjadi figur sentral.
Mantan Wali Kota Kotamobagu itu dikenal memiliki pengaruh luas di kawasan BMR dan dinilai mampu menjadi lokomotif elektoral PSI di wilayah tersebut.
Sementara di Tomohon, Sherly Sompotan masih menjadi salah satu tokoh perempuan yang memiliki akar politik kuat.
Pengalamannya di pemerintahan dan kedekatan dengan masyarakat menjadi modal yang dinilai masih relevan dalam kontestasi mendatang.
Nama Melky Pangemanan juga masuk dalam radar. Mantan anggota DPRD Sulawesi Utara itu dinilai memiliki jaringan politik yang solid di Minahasa Utara dan Kota Bitung.
Perannya dalam konsolidasi organisasi PSI disebut semakin memperkuat daya saing partai.
Melengkapi komposisi tersebut adalah politisi senior James Karinda. Berbekal pengalaman sebagai anggota DPRD dan mantan Direktur Utama PT Air Manado, James Karinda dinilai tetap memiliki pengaruh di Kota Manado, salah satu daerah pemilihan paling strategis di Sulawesi Utara.
Pengamat politik Jeffrey Sorongan menilai, kombinasi lima figur dengan basis yang tersebar di sejumlah daerah berpotensi menciptakan efek kejut pada peta politik Sulut.
Jika konsolidasi berjalan efektif, PSI tidak hanya menjadi peserta pemilu, tetapi dapat tampil sebagai penantang serius dalam perebutan suara.
Situasi ini membuat partai-partai mapan diperkirakan tidak bisa lagi hanya mengandalkan basis tradisional.
Pertarungan 2029 diprediksi akan lebih ditentukan oleh kekuatan figur, efektivitas mesin partai, serta kemampuan membaca aspirasi pemilih, terutama generasi muda.
Menuju 2029, politik Sulawesi Utara tampaknya memasuki babak baru.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah PSI bisa menjadi pemain utama, melainkan sejauh mana partai berlambang gajah itu mampu mengonversi kekuatan figur menjadi kemenangan elektoral.
(*/HKN)



