DaerahKota Manado

Krisis Air Mencekam Bunaken dan Manado Tua, Teba: Ini Jadi Perhatian Serius

Meikel Damapolii

Manado, KOMENTARNEWS –Kemarau panjang yang diperparah fenomena El Nino tahun ini tidak hanya mengeringkan lahan pertanian di daratan Sulawesi Utara. Di wilayah kepulauan Kota Manado, krisis air bersih kini menjadi persoalan nyata yang dirasakan ribuan warga Pulau Bunaken dan Pulau Manado Tua.

Sejak awal Agustus, sumur-sumur warga di dua pulau tersebut mulai mengering. Debit air tanah menurun drastis, sementara kebutuhan air untuk mandi, memasak, dan minum harian terus meningkat. Kondisi ini memaksa warga mengandalkan distribusi air bersih yang dikirim menggunakan kapal tangki.

Upaya bantuan terus dilakukan. Baru-baru ini, Ditpolairud Polda Sulut turut menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 72 ribu liter ke Pulau Manado Tua. Bantuan itu disambut warga, namun dinilai belum mencukupi kebutuhan jangka panjang.

Pemerintah kecamatan setempat juga rutin mendistribusikan air bersih setiap minggu. Namun, warga menilai bantuan itu sifatnya darurat dan belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh kepala keluarga.

“Kami bersyukur kecamatan masih bantu kirim air setiap minggu. Tapi satu kapal tangki itu harus dibagi untuk ratusan rumah. Antriannya panjang, dan kadang tidak kebagian,” ujar Rina Damanis, warga Pulau Bunaken, Minggu (31/8/2026).

Warga lain dari Pulau Manado Tua, Jefri, mengaku terpaksa membeli air dari pengepul dengan harga 3 kali lipat dari biasanya.

“Kalau hanya mengandalkan bantuan kecamatan dan sesekali dari Polairud, kami kewalahan. Kalau kemarau terus sampai Oktober seperti prediksi BMKG, kami butuh solusi yang lebih pasti dari Pemkot dan PDAM,” katanya.

Jefri berharap Pemkot Manado tidak hanya mengandalkan distribusi kecamatan, tetapi juga turun langsung bersama PDAM untuk mencari solusi jangka panjang. Beberapa usulan yang mengemuka antara lain penambahan armada distribusi air, pemasangan tandon komunal, hingga kajian pembangunan pipa bawah laut atau instalasi desalinasi.

“Kami minta Pemkot Manado dan PDAM segera memperhatikan kondisi kami. Jangan sampai krisis ini semakin parah dan memicu masalah kesehatan karena warga terpaksa menghemat air terlalu berlebihan,” tegas Jefri.

Menanggapi keluhan warga, Wakil Ketua DPRD Kota Manado, Meikel Damopolii atau akrab disapa Teba, menegaskan krisis air di wilayah kepulauan harus segera ditangani serius.

“Ini sudah masuk kategori darurat. Kita tidak bisa hanya mengandalkan distribusi tangki dari kecamatan dan bantuan sesekali. Pemkot bersama PDAM harus hadir dengan program yang pasti,” ujar Teba.

Teba juga menyampaikan pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Pemkod dan PDAM terkait krisis air bersih ini.

“Kami di DPRD menerima aspirasi warga. Kami tengah berkoordinasi dengan PDAM dan Pemkot Manado, saat ini kita tengah cari solusi jangka pendek untuk sekarang, dan rancang solusi jangka panjang agar kejadian ini tidak berulang tiap musim kemarau,” jelasnya.

Lebih lanjut, Teba mendorong Pemkot mengkaji opsi infrastruktur di kepulauan.

“Ke depan kita harus berani bicara soal tandon komunal, pipa bawah laut, bahkan opsi desalinasi. Warga di pulau juga warga Kota Manado. Hak mereka atas air bersih harus dijamin negara,” tegasnya.

BMKG Stasiun Klimatologi Sulut sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau akan berlangsung hingga Oktober 2026, dengan intensitas kekeringan lebih tinggi dibanding tahun lalu akibat El Nino.

Menanggapi hal itu, warga berharap ada koordinasi cepat antara Pemkot Manado, PDAM, BPBD, Ditpolairud, DPRD, dan pihak kecamatan agar distribusi tidak terhambat dan perencanaan infrastruktur bisa segera dimulai.

Hingga berita ini diturunkan, Pemkot Manado dan PDAM belum memberikan keterangan resmi terkait langkah penanganan khusus untuk wilayah kepulauan. Warga pun berharap ada kejelasan secepatnya agar krisis air tidak meluas ke pulau-pulau lain di sekitar Kota Manado.(bly)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button