Besok, Ayah Risky Monigir Gandeng Pengacara dan Media Polisikan Dokter Siloam yang Mengaku Adik Kapolda Sulut

MANADO – Kasus dugaan upaya penabrakan terhadap sekuriti kawasan Megamas Manado, Risky Monigir, memasuki babak baru. Ayah korban, Hut Kamrin, memastikan akan menempuh jalur hukum dengan melaporkan dokter berinisial Wiliam yang disebut terlibat dalam insiden tersebut ke Polres Manado, Senin (12/10/2026).
Kamrin menegaskan, laporan polisi akan dilakukan bersama kuasa hukum dari Kantor Hukum Alfian Boham, MH, dengan dugaan tindak pidana percobaan pembunuhan. Ia juga menyatakan akan menggandeng media massa untuk mengawal proses hukum tersebut.
“Besok, jam 10 siang, saya dan pengacara akan membawa anak saya, Risky Monigir, untuk melaporkan dugaan percobaan pembunuhan yang dilakukan pelaku ke Polres Manado,” tegas Kamrin, Minggu (11/10/2026) malam.
Ketua PWI Manado itu mengatakan, keputusan menempuh jalur hukum diambil setelah keluarga menunggu adanya itikad baik dari pihak terlapor untuk meminta maaf. Namun, menurut Kamrin, hingga hampir dua kali 24 jam setelah kejadian, belum ada permintaan maaf langsung yang diterima keluarga.
“Saya sebenarnya berharap dia meminta maaf. Tapi sudah hampir dua kali 24 jam tidak ada niat meminta maaf. Karena itulah saya memilih menempuh jalur hukum,” ujarnya.
Kamrin mengaku telah berkonsultasi dengan Kantor Hukum Alfian Boham, MH, terkait langkah hukum dan pasal yang dinilai relevan untuk dilaporkan kepada penyidik.
Menurutnya, proses hukum menjadi penting untuk membuktikan bahwa setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum, tanpa memandang profesi maupun status sosial.
“Di media sosial, masyarakat pesimistis. Nah, saya punya hak hukum untuk membuktikan bagaimana seharusnya aparat bertindak adil. Saya ingin persoalan ini diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegas Pemimpin Redaksi KOMENTAR.ID tersebut.
Sebelumnya, Risky Monigir mengungkapkan insiden itu terjadi di kawasan Megamas Manado sekitar pukul 02.00 hingga 03.00 WITA. Menurut penuturannya, peristiwa bermula ketika sebuah mobil yang dikendarai pria bernama Wiliam menabrak traffic cone dan rambu larangan di kawasan tersebut.
Risky, yang saat itu sedang bertugas sebagai sekuriti, mengaku membuntuti kendaraan tersebut untuk meminta pengemudinya berhenti dan memberikan penjelasan.
“Saya berpapasan dengan dia di samping Cafe Mistik. Saya kemudian mencegat dan secara sopan meminta dia menurunkan kaca,” tutur Risky saat ditemui di kediaman ayahnya, Sabtu (10/10/2026).
Namun, menurut Risky, situasi tiba-tiba berubah ketika pengemudi tersebut memundurkan mobil dan diduga berusaha menabraknya.
“Tiba-tiba dia bilang, ‘Oh, saya tabrak aset ya?’ Kemudian dia mundurkan mobilnya lalu hendak menabrak saya. Selanjutnya saya lari dan dia mengejar dari belakang memakai mobil,” ungkapnya.
Risky mengaku terus menghindar saat kendaraan tersebut diduga mengejarnya dari kawasan Mistik hingga ke sekitar Hotel Wish Prime, melewati area belakang Mie Gacoan.
Dalam pengejaran itu, kata Risky, kendaraan tersebut juga menabrak papan petunjuk lalu lintas. Merasa keselamatannya terancam, ia berupaya mencari rekan kerja untuk meminta bantuan.
“Saya terus melaju mencari rekan kerja karena hampir dia tabrak dari belakang,” katanya.
Risky juga menuturkan bahwa pengemudi tersebut akhirnya dicegat sejumlah petugas keamanan di dekat pintu kawasan, tidak jauh dari sebuah klenteng.
Dalam situasi tersebut, menurut pengakuan Risky, pria itu sempat menantang para sekuriti untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Kapolres maupun Kapolda.
“Kalian mau lapor ke Kapolres dan Kapolda, ya? Saya ini adik Kapolda. Silakan lapor,” demikian ucapan yang diklaim Risky disampaikan pria tersebut.
Risky menduga pengemudi berada dalam kondisi mabuk karena mencium bau minuman keras dari napasnya. Namun, kondisi tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan pihak berwenang.
Ia juga menyebut pria tersebut mengenakan kaus bertuliskan Siloam. Setelah kejadian, pengemudi sempat disebut hendak mengganti kerugian atas kerusakan fasilitas kawasan, tetapi meminta adanya surat resmi dari pihak kantor.
Risky mengaku tidak mengetahui secara langsung proses selanjutnya karena telah kembali ke pos penjagaan. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari pimpinan regu, kakak pria tersebut kemudian datang dan menyampaikan permintaan maaf kepada petugas keamanan.
Sementara itu, mobil listrik merek Denza yang disebut digunakan dalam insiden tersebut sempat ditinggalkan di depan kawasan Milenium. Belum diketahui secara pasti apakah kendaraan itu masih berada di lokasi.
Terpisah, Kamrin mendesak manajemen kawasan Megamas agar turut mendorong penyelesaian kasus tersebut melalui jalur hukum. Ia menilai dugaan tindakan yang mengancam keselamatan anaknya tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele.
Kamrin mengaku kecewa karena keselamatan anaknya dipertaruhkan dalam insiden tersebut. Ia pun menegaskan tidak ingin latar belakang maupun dugaan hubungan keluarga seseorang dengan pejabat menjadi alasan untuk menghambat proses hukum.
“Saya tidak pusing mau dia adik Kapolda atau adik Presiden. Kalau ada indikasi tindak pidana, harus diproses sesuai hukum,” tegasnya.
Ia menambahkan, keluarga akan mengawal laporan tersebut dan berharap aparat kepolisian menangani perkara secara profesional, objektif, serta transparan.
Meski demikian, dugaan percobaan pembunuhan yang disampaikan keluarga korban masih harus dibuktikan melalui penyelidikan dan penyidikan. Konfirmasi dari pihak terlapor, manajemen Siloam Hospital, serta kepolisian terkait kronologi dan status penanganan perkara masih diperlukan.
Keluarga berharap laporan yang direncanakan pada Senin pagi itu menjadi langkah awal untuk memperoleh kejelasan hukum sekaligus memastikan insiden yang mengancam keselamatan seorang petugas keamanan tidak berakhir tanpa pertanggungjawaban.(bly)


